Mangsa keempat (18 September – 12 Oktober, 25 hari), puncak musim kemarau panas ketika pohon kapuk randu merekah dan sumur-sumur mulai mengering.
Mangsa Kapat memiliki sesanti yang sangat menyentuh kalbu: 'Waspa Kumembeng Jroning Kalbu' (Air mata menggenang di dalam lubuk hati). Alam berada dalam puncak kekeringan: rumput menguning, sumber air menyusut drastis, dan pohon randu merekah menerbangkan serat kapuknya. Keadaan ini melatih empati batin manusia merasakan penderitaan sesama yang kekurangan air bersih, sekaligus mengajarkan penghematan sumber daya alam.
Berlangsung selama 25 hari dari 18 September hingga 12 Oktober. Waktu bagi petani menanam palawija tahan kering seperti ketela dan kacang hijau.
Konservasi air bersih, penghematan energi, dan antisipasi bencana kekeringan regional.
"Di saat sumber air menyusut, di sanalah sumber mata air kedermawanan batinmu diuji untuk saling berbagi."