Sistem penanggalan iklim dan 12 musim tradisional berbasis pengamatan teliti terhadap perilaku alam.
Pranata Mangsa secara resmi dibakukan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana VII pada tahun 1855, meski akarnya telah dipraktikkan petani Jawa ribuan tahun sebelumnya. Sistem ini membagi satu tahun matahari ke dalam 12 mangsa (Kasa hingga Sadha) dengan mencatat fenomena biologis dan meteorologis: kapan rontoknya daun jati, kapan terdengarnya suara tonggeret, kapan arah angin bertiup, dan kapan waktu terbaik menebar benih padi. Pranata Mangsa adalah bukti kejeniusan sains empiris masyarakat agraris Nusantara.
12 Mangsa: Kasa (41 hari), Karo (23 hari), Katelu (24 hari), Kapat (25 hari), Kalima (27 hari), Kanem (43 hari), Kapitu (43 hari), Kawolu (26/27 hari), Kasanga (25 hari), Kadasa (24 hari), Dhesta (23 hari), Sadha (41 hari).
Menjadi rujukan penting dalam mitigasi krisis iklim, pertanian organik ramah lingkungan, dan kajian antropologi cuaca.
"Menghormati siklus alam: manusia tidak boleh memaksakan kehendak melawan ritme semesta."