Hari pertama dalam siklus enam harian (Sadwara) berperlambang daun atau tetumbuhan, mengajarkan keteduhan dan pentingnya menyerap sari kebaikan.
Dalam penanggalan kuno Jawa dan Bali, siklus Sadwara (Paringkelan) membagi putaran hari ke dalam enam watak simbolik alam. Tungle menempati urutan pertama dengan lambang godhong (daun). Daun adalah bagian tanaman yang mengolah sinar matahari menjadi energi kehidupan melalui proses fotosintesis. Makna filosofisnya adalah ajakan bagi manusia untuk memiliki keteduhan budi, mampu menaungi orang yang sedang kepanasan oleh persoalan hidup, dan senantiasa menyerap nilai-nilai kebijaksanaan untuk disebarkan kembali sebagai kesegaran bagi sesama.
Siklus Sadwara berulang setiap 6 hari sekali: Tungle, Aryang, Wurukung, Paningron, Uwas, Mawulu. Dihitung secara matematis dari sisa hari pawukon dibagi 6.
Dapat dimaknai sebagai pengingat etika ekologis untuk merawat kelestarian flora dan penghijauan di lingkungan perkotaan yang kian gersang.
"Jadilah laksana daun hijau yang memberi oksigen kedamaian tanpa menuntut pujian dari dahan tempatnya berpijak."