Sistem kalender berumur ribuan tahun asli Nusantara yang terdiri atas 30 wuku selama 210 hari.
Pawukon adalah salah satu mahakarya intelektual astronomi dan antropologi terbesar peradaban Jawa dan Bali. Kalender ini tidak bergantung pada matahari maupun bulan, melainkan berputar pada daur matematis murni: 30 wuku yang masing-masing berumur 7 hari (total 210 hari). Asal-usulnya dikaitkan dengan legenda Prabu Watugunung dan 27 putranya. Pawukon memetakan ritme energi kosmis mingguan—menuntun kapan waktu yang tepat untuk menanam, menggelar upacara adat, maupun menjaga keselamatan batin.
1 Siklus Pawukon = 30 Wuku × 7 Hari = 210 Hari. Setiap wuku memiliki naungan dewa, pohon, burung, dan gedung simbolis.
Masih digunakan secara aktif di Bali (sebagai penentu Hari Raya Galungan dan Kuningan) serta di Jawa untuk melacak siklus peringatan adat.
"Pawukon mengajarkan bahwa waktu memiliki fase musim batin: ada masa berkembang bagai tunas, ada masa menuai hasil, dan ada masa prihatin yang harus dijalani dengan kesabaran."