Hari wafat seseorang saat arwah kembali menghadap Sang Pencipta, menjadi patokan dasar (titik tolak) perhitungan seluruh siklus selametan.
Kata geblag merujuk pada peristiwa berpulangnya manusia ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Bagi masyarakat Jawa, momen ini adalah saat terlepasnya sukma dari raga wadag kasar, di mana unsur-unsur jasmani (tanah, air, api, angin) kembali ke asalnya. Geblag bukan sekadar penanda duka, melainkan titik tolak penting yang harus dicatat hari dan pasarannya secara saksama. Catatan waktu ini menjadi kompas bagi anak cucu untuk terus menghidupkan bakti (*birrul walidain*) melalui kiriman doa dan sedekah.
Titik tolak hari ke-1. Bila wafat terjadi sebelum Maghrib, maka hari itu dihitung hari ke-1; bila wafat sesudah Maghrib, maka secara hisab penanggalan Jawa/Hijriyah sudah terhitung masuk hari pasaran berikutnya.
Penentu ketepatan waktu bagi keluarga besar dalam menyusun agenda takziah, pengajian tahlil, dan koordinasi warga rukun tetangga.
"Mengingat geblag leluhur adalah sarana mawas diri bahwa setiap napas kita bergerak menuju muara kepulangan yang sama."
Bagi keluarga besar yang ingin menghitung tanggal pasti peringatan duka cita (Geblag) secara otomatis dengan hisab waktu Maghrib, draf undangan WhatsApp keluarga, dan buku saku tahlil lengkap tanpa iklan mengganggu, Anda dapat menggunakan:
Portal di ruh.web.id beroperasi 100% hening dan beradab sesuai adab duka cita keluarga.