Mahakarya arsitektur vernakular tradisional Jawa dengan atap tajug menjulang yang melambangkan keagungan gunung dan keselarasan mikrokosmos manusia dengan alam.
Joglo bukan sekadar rumah tempat berlindung dari panas dan hujan, melainkan perwujudan fisik kosmologi Jawa. Bentuk atap tajugnya yang meruncing ke atas terinspirasi dari bentuk gunung (poros suci tempat bersemayamnya para dewata). Struktur joglo ditopang oleh sistem rangka kayu yang fleksibel tanpa paku besi, melainkan pasak kayu yang liat dan mampu meredam gelombang gempa bumi secara alami. Joglo mengajarkan kearifan hidup yang kokoh berakar pada nilai tradisi namun luwes merespons guncangan zaman.
Terdiri atas tiga bagian utama: Pendapa (publik/terbuka), Pringgitan (semi-privat/wayang), dan Dalem Ageng (privat/keluarga).
Inspirasi arsitektur hijau berkelanjutan (green architecture) yang tahan gempa dan ramah lingkungan tropis.
"Rumah yang megah tak ada artinya bila di dalamnya dingin tanpa kehangatan tutur kata yang santun dan kasih sayang."