Puncak ajaran moral dan filosofi hidup manusia Nusantara: kewajiban memperindah dan menjaga kelestarian kedamaian alam semesta.
Memayu Hayuning Bawana adalah doktrin etika kosmis tertinggi peradaban Jawa dan Nusantara. Terdiri dari kata "Memayu" (memperindah, merawat, menjaga), "Hayu" (keselamatan, kedamaian, kesejahteraan), dan "Bawana" (bumi, semesta, peradaban manusia). Doktrin ini menuntut setiap insan manusia untuk hadir sebagai juru selamat dan juru rawat bagi lingkungannya. Manusia dilarang merusak tatanan alam, menindas sesama, atau menyebarkan kebencian. Hidup manusia baru memiliki arti manakala kehadirannya mampu menambah keindahan dan ketenteraman bagi jagad raya.
Diterapkan melalui tiga pilar selaras: hubungan dengan Tuhan (Manembah), hubungan dengan sesama manusia (Tepa Selira), dan hubungan dengan alam (Nguri-uri Semesta).
Sangat selaras dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs) dan gerakan konservasi lingkungan global.
"Jangan tinggalkan jejak kehancuran di bumi tempatmu pernah menumpang makan dan minum. Wariskanlah mata air, bukan air mata, bagi anak cucu."